Bagikan:

Jakarta – Semua orang telah berbohong tentang dirinya, kepada teman, lembaga survei, petugas statistik. Kebohongan tersebut kebanyakan terjadi, utamanya pada hal-hal yang dianggap pribadi.

Ambil contoh tentang pembicaraan tentang seks. Hasil survei tentang seks, tak bisa dipercaya begitu saja. Bahkan data yang bersumber dari General Social Survei, yang dianggap sebagai sumber informasi terpercaya tentang prilaku orang Amerika.

Menurut survei ketika bicara tentang seks, perempuan mengatakan mereka mengatakan rata-rata berhubungan seks 55 kali per tahun dan menggunakan kondom 16 persen kesempatan. Ini kira-kira setara dengan penggunaan kondom sebanyak 1,1 milyar pertahun. Namun laki-laki memberi data sekitar 1,6 milyar per tahun. Seharusnya, data pengakuan perempuan dan laki-laki sama. Datanya yang diterima berbeda, pertanyaannya siapa yang berbohong?

Anehnya, menurut AC Nielsen, ternyata kedua data ini salah. Lembaga ini telah melacak prilaku konsumen, ternyata kondom yang terjual setiap tahunnnya kurang dari 600 juta buah. Jadi kesimpulannya, semua orang berbohong, cuma yang berbeda adalah kadar kebohongannya.

Ini salah satu, dari banyak contoh, cara Seth Stephens-Davidowitz, menceritakan bagaimana data survei yang ada seringkali tidak menggambarkan prilaku sebenarnya.

Dalam bukunya yang berjudul: “Everybody Lies, Bigdata dan Apa yang Diungkapkan Internet Tentang Siapa Kita Sesungguhnya,” mengungkap banyak hal tentang bagaimana kebohongan demi kebohongan terjadi.

Penulis yang merupakan ekonom lulusan Harvard University ini berargumen bahwa, banyak hal yang kita pikirkan tentang orang lain ternyata keliru. Kenapa? karena orang-orang kebanyakan berbohong kepada temannya, pasangan, dokter, survei dan bahkan diri mereka sendiri.

Disinilah kedahsyatan big data, mengungkap kebenaran yang sesungguhnya. Data baru dari internet, jejak informasi yang orang tinggalkan di google, media sosial, biro jodoh daring, bahkan situs porno akhirnya mengungkap berbagai pertanyaan.

BACA JUGA :  VIDEO NGAJI 1 MENIT QURAISH SHIHAB TENTANG MENCARI PASANGAN

Big data merupakan tempat untuk memperoleh jawawan jujur tentang berbagai pertanyaan pelik. Misalnya, pertanyaan seputar tempat beriklan, tempat besekolah, dimana tempat terbaik membesarkan anak, apa yang harus diobrolkan saat kencan pertama, dan sebagainya. Semua pertanyaan ini dapat dipercayakan pada big data yang diperoleh dari jejak yang ada di ienternet.

Bahkan tanpa keraguan, Seth Stephens – Davidowitz mengklaim bahwa kemenangan Donald Trumph pada tahun 2016, adalah karena memanfaatkan jejak digital di internet. Dimana data-data tentang sentimen rasial, dijadikan sebagai dasar untuk membangun isu utama.

Setiap aktivitas pengguna internet, pada dasarnya menyumbang data baru. Prilaku pengguna media sosial, seperti facebook dan instagram, atau menggunakan aplikasi tranportasi, aplikasi belanja, jelas meninggalkan jejak digital yang dapat berubah menjadi data.

Tidak hanya itu, bangunan sebuah big data juga bisa diperoleh dari sisi terdalam manusia. Dalam hal ini, Seth mengatakan bahwa apa yang telah dipikirkan oleh Sigmund Freud tentang teori mimpinya, telah menemukan relevansinya dalam kerja big data.

Seolah-olah penulis buku ingin mengatakan, bahwa apa yang dilakukan secara sadar jauh lebih berpotensi menghasilkan kebohongan dari pada prilaku bawah sadar. Prilaku tak sadar termasuk bagaimana prilaku kita di internet. Prilaku pengguna internet, seperti tontonan dan mesin pencarian, konten apa yang sering diklik, kata kunci yang diketik, adalah prilaku bawah sadar yang dapat dihimpun menjadi big data.

Seth mengkalim bahwa, dengan big data, maka para ilmuwan sosial, dapat mencermati elemen-elemen kecil, dari fakta yang biasanya terungkap. Padahal sebelum era big data, yang hanya mengadalkan survei, sering kali membuat para ilmuwan sosial diliputi keraguan, apakah data tersebut menggambarkan kenyataan.

BACA JUGA :  Senator Alex Ingatkan Satgas Covid di Babel Tegas Terapkan Sanksi ke Pelanggar Prokes

Big data, adalah himpunan berbagai keterangan yang diungkap kan manusia pengguna internet, termasuk hal-hal yang tidak pernah diceritakan kepada orang-orang terdekatnya. Hal-hal yang merupakan sisi terdalam pada manusia.

Siapa sangka, kata kunci yang sering dituliskan di google bisa menjadi petunjuk untuk berbagai hal dalam membuat kebijakan politik, bisnis, dan berbagai tujuan lainnnya. Hanya saja, data-data tersebut banyak disalahpahami oleh publik. Banyak pendapat yang salah kaprah, mereka berpikir bahwa seolah data-data individu atau anonim diketahui oleh sebuah big data. Sebenarnya, bukan di sana intinya, bigdata hanya menghimpun berbagai prilaku kita diinternet. Data itulah yang kemudian dianalisis sesuai kepentingan masing-masing.

Hal-hal seperti inilah, diantaranya yang diungkap oleh Seth Stephens – Davidowitz dalam buku yang sangat inspiratif ini.  Dengan bahasa yang mengalir, tema serius menjadi mudah dicerna. Membaca buku ini, mungkin bisa membuat semakin tertantang untuk menjadikan bigdata sebagai basis untuk mengambil keputusan. (ilp/ijs)

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *