Bagikan:

Jakarta – Melonjaknya harga cabai dalam beberapa bulan terakhir mendorong Kementerian Pertanian (Kementan) untuk melakukan langkah strategis agar mampu mengembalikan harga. Kini, salah satu strategi yang diusung ialah menggalakan gerakan tanam cabai.

“Targetnya nanti untuk pengembangan kawasan cabai mencapai 5 ribu hektare (Ha). Lokasinya akan dilakukan di seluruh sentra produksi cabai Indonesia. Semua persiapan sudah dilakukan,” terang Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan, Tommy Nugraha pada keterangan tertulisnya, Selasa (23/2/2021).

Namun ia menyebut butuh waktu agar jumlah produksi bisa kembali stabil mengingat menanam cabai membutuhkan waktu sekitar dua bulan dari mulai tanam. Ia pun meminta hal tersebut agar tak perlu dipersoalkan karena yang terpenting saat ini pihaknya sudah melakukan solusi daripada tak melakukan apa pun.

BACA JUGA :  Sudah 77 Tahun, Wapres Ma'ruf Amin Telah Divaksin Pagi Ini

Tommy sempat mengaku mendapatkan informasi dari para petani cabai bahwa penurunan produksi terjadi lantaran sejumlah sentra mengalami banjir dalam beberapa hari terakhir. Bencana banjir yang kebanyakan terjadi di Jawa disebut cukup berpengaruh pada naiknya harga cabai.

Sebelumnya, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri menyebut, dampak banjir terhadap kenaikan harga cabai tak terlalu signifikan. Menurutnya, kenaikan harga cabai lebih kepada permasalahan dari sisi produksi.

“Dampak banjir iya ada, tapi kalau di pasar tidak terlalu banyak dampaknya. Ini sebetulnya persoalan lama,” ujarnya.

Sementara itu,  keterkaitan antara banjir dengan kenaikan harga cabai sebelumnya juga masih belum dibenarkan seutuhnya oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemendag), Syailendra. Ia mengatakan, pihaknya masih mengidentifikasi kebenaran adanya dampak banjir terhadap penurunan produksi maupun arus distribusi cabai ke setiap daerah.

“Saya terus terang masih melihat dampak banjir ini karena beberapa pekan lalu informasi dari asosiasi, daerah masih tetap produksi,” terang Syailendra. (Sdy/IJS)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *